Perapal Kata
Senin, 25 Juli 2016
Mencinta Dalam Diam
Selamat menanti senja.
Ada seorang anak yang selalu berdoa agar segera dipertemukan oleh malam. Dia sangat mencintai sinar rembulan. Teduh terang bulan mampu membuat hatinya tentram. Ada pula aku. Seorang yang selalu berdoa agar dipertemukan denganmu. Aku sangat mencintai garis senyum dari balik bibir itu.
Bukan. Aku bukan menginginkan bibirmu. Aku ingin kamu. Kamu saja. Kamu selalu. Andai saja kamu tahu perasaan di balik diam ini, yang menyapamu pun aku tak sanggup. Bukan karena aku takut, tapi karena aku mengetahui bahwa masih ada nama pria lain di dalam hatimu.
Masih ingatkah dengan sebuah celengan rindu yang aku buat saban hari yang lalu? Mungkin kamu sudah lupa. Celengan tersebut sebentar lagi terisi penuh. Buncah rindu yang tak henti-hentinya mengisi. Ini celengan, bukan lautan yang tak ada batasan isinya. Rindu yang merangkap menjadi hantu lalu kemudian selalu membisik ketika aku lengah, “ayo, segera, temuilah! Jangan jadi pria cemen seperti ini. Kamu bukan kamu yang aku kenal.”
Ini kali pertamanya aku gentar terhadap wanita. Bukan aku ingin terlihat sok berani, tetapi ini perihal yang sangat berbeda.
Aku hanya mampu menatapmu dari kejauhan, belum mampu untuk mengajakmu berbincang, membunuh waktu dan mengusir sepi bersama. Aku tahu betul bahwa kamu masih sangat mencintai pria itu. Kamu sudah pasti tahu siapa yang aku maksud. Pada posisimu sebagai wanita yang masih terjebak kenangan dengannya, tentu saja aku sangat kurang ajar jika kemudian mengajakmu berbincang perihal hati. Tetapi, jika saja kamu membolehkan aku untuk membantumu move on, tentu saja aku dengan senang hati sangat bersedia.
Sudahlah. Kenangan masa lalu tak usah diusik, agar tak terusik. Kenangan telah mempunyai tempatnya sendiri. Mengingat boleh, larut akan lara jangan. Seandainya saja aku bisa menjadi pria yang melipur laramu, tentu saja aku termasuk golongan yang berbahagia. Tapi, itu hanya andai-andaiku yang terlalu tinggi mengambang di awang-awang, dan mungkin tak akan turun melesat menuju anganmu.
Jika saja aku mengatakan bahwa perasaan itu seperti sebuah kiamat, tak ada yang tahu kapan datangnya, apakah kamu setuju dengan pernyataanku tersebut? Perasaanku telah bergetar sangat kencang bak gempa bumi dengan skala ritcher yang sangat dahsyat; diakibatkan olehmu. Bukan, aku tak minta pertanggungjawabanmu. Ini cuman hatiku saja yang terlalu cepat bergetar. Bukan main dampak sebuah jatuh cinta, mampu membuat waktu seseorang tersita banyak karena merindu dan menyendu semalaman.
Kalau kata Bernard, “Jika cinta hanya sepihak, itu akan percuma.” Sampai suatu saat kamu telah siap untuk membicarakan semua perihal kecuali perihal perpisahan, aku akan ada untuk mendengarkan semuanya. Jika hatimu telah lelah mengelilingi berluas-luas samudera, percayalah, tambatkan segera jangkar kapalmu ke pelabuhanku. Aku akan ada untuk menyambutmu dan memberikanmu pelukang hangat. Aku selalu percaya bahwa air sungai mengalirnya ke hilir. Sama seperti sebuah hati, tahu kemana akan mengalir.
Kamu akan selalu menjadi puisi terindahku, di antara diksi-diksi cantik, tercipta bersama melodi perasaan, dimana puisi tersebut aku simpan rapi di rak bukuku, lalu esok harinya akan kusetubuhi kembali diksi puisi ini dengan mesra.
Menunggu tak ditunggu. Mengejar tak berhenti. Tapi aku selalu suka jika hal tersebut mengenai kamu.
Dari aku, your secret admire. Semoga kamu senantia berbahagia.
Makassar, 25 Juli 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
